Assalamu'alaikum Wrwb
Selama ini disadari atau tidak, kebahagiaan kita seringkali terengut oleh urusan-urusan yang tidak ada kaitannya dengan diri kita.
Kebahagiaan yang selalu kita dambakan, nyatanya sering kita patahkan sendiri.
Cobalah kita hitung, berapa banyak pemberian Allah yang tak begitu kita hiraukan untuk diterimakasihi lantaran terlalu sibuk mengamati dan membanding-bandingkan dengan keberhasilan orang lain.
Kita menjadi tak sempat berbagi kebahagiaan bersama keluarga atas nikmat yang kita peroleh. Kita tak punya waktu untuk merasakan nikmat dan mengucap Alhamdulillah, dengan sepenuh jiwa. Kita menjadi tak begitu berminat untuk sekedar menunjukkan wajah bahagia dihadapan orang lain
Menurut para ulama,
Iri ini jelas-jelas penyakit hati. Dalam tingkat ini,kita mulai tidak suka melihat orang lain mendapatkan suatu nikmat. Saat penyakit iri hati muncul, kita sangat menginginkan nikmat itu hilang darinya. Kalau nikmat itu masih melekat pada mereka, rasanya hati tidak bisa terima. Pokoknya ada saja alasan yang membut kita mengatakan "dia tidak layak". Sebaiknya apabila nikmat itu hilang, hati ini menjadi plong, lega.
Allah swt mengingatkan, "Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain (An-Nisa:32)
Jika dia melihat ahli surga karena banyak beramal dengan nikmat yang dimilikinya, kenapa tidak lebih baik iri atas amal shalihnya? sebaliknya jika itu urusan dunia, kenapa begitu aneh ngotot ingin menjadi seperti itu.
Iri hati adalah "Perampok kebahagiaan" yang bersembunyi didalam diri kita sendiri. orang-orang yang menghargai hidupnya sangat sadar betapa tak bergunanya sikap iri hati ini. Waktu yang habis oleh kesibukan memikirkan nikmat dunia yang diterima orang lain, sungguh sebuah ongkos yang terlalu mahal.
Waktu dan kehidupan yang berharga ini akan terus berjalan. Kebahagiaan yang hilang sebab keliru mengambil tindakan. tak akan pernah kembali. Tak akan pernah.
Belum lagi, ongkos yang harus dibayarkan itu berupa pertanggung jawaban akhirat kelak. TEntang seberapa rasa syukiur kita kepada nikmat Allah. Ketika kita semua ditanya
"Fabiayyi 'alaa irabbikumaa tukaddzibaan, maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? Bila iri selalu bercokol dihati, punya nyalikah kita untuk menjawab, "Ya Allah, sudah aku syukuri semua, sedikitpun tidak ada yang saya dustakan"
Allahumma a'inni 'ala dzikrika wa syukrika wa husni 'ibadatika'
Oleh: Bambang Heri, SE
Nurul Hayat, Bacaan Hikmah Keluarga
Wassalamu'alaikum wr.Wb
Friday, May 14, 2010
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
.jpg)
No comments:
Post a Comment